3/19/2017

Makalah Pendidikan Pada Masa Masuknya Islam Ke Indonesia



Kelompok 6
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
POLA DAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA AWAL MASUK KE INDONESIA

Dosen Pengampu : Endah Ayuningtyas, M.Pd.I.
Kelas/semester : C/ 1 (satu)

Disusun Oleh :
Nama                                       Npm
1. Devi Kurniawati                  1611070119
2. Eni Farhatun                        1611070147
3. Siti Komariah                      1611070155


PENDIDIKAN RAUDHATUL ATHFAL
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2016


BAB II

PEMBAHASAN

A.  Proses Masuknya Islam ke Nusantara
Pada masa itu Nusantara dikenal dengan nama “Negeri Bawah Angin”. Disamping itu Nusantara diberi sebutan “Lesser India” atau India Kecil.[1] Sedangkan orang – orang yang berada di Nusantara memberikan sebutan “Negeri Atas Angin” kepada negeri India, Persia, dan Arab. Adapun orang – orang Nusantara yang berada di haramain ( Mekah dan Madinah ), mereka dikenal dengan  sebutan Jawi. Karena itu seorang ulama yang sedang belajar dan tinggal di tanah suci, disebut ulama.
Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7, namun ada juga yang berpendapat islam masuk Nusantara pada abad ke-13 dengan ditemukannya makam Fatimah Bin Maimun di jawa. Melalui dua jalur yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) – Damaskus - Bagdad – gujarat (Pantai Barat India) – Srilanka – Indonesia, sedangkan jalur selatan dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) – Yaman – Gujarat – Srilanka – Indonesia.
B.     Proses Penyebaran Islam di Indonesia
1.    Perdagangan
Pada abad ke-7 M. Bangsa Indonesia kedatangan para pedagang islam dari Arab, Persia, dan India. Mereka telah ambil bagian  dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Dengan adanya hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dengan pedagang islam, sebagai umat muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah maka para pedagang islam menyampaikan dan mengajarkan agama serta kebudayaan islam kepada orang lain.



[1]  Drs. Agus Santoso, M. Ag., Sejarah Kebudayaan Islam (Sragen : Akik Pustaka, 2008), h.    24.
  

Proses penyebaran islam melalui proses perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif di banding cara lainnya. Apalagi yang terlibat dalam perdagangan tersebut bukan hanya masyarakat golongan bawah, tetapi juga golongan kelas atas seperti kaum bangsawan atau raja.

2.    Perkawinan

Hubungan komunikasi yang baik antara pedagang Indonesia dengan islam, tidak jarang diteruskan dengan perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang muslim. Melalui perkawinan inilah terlahir seorang muslim. Lambat laun terbentuk masyarakat muslim dengan adat islam hingga suatu saat terbentuknya sebuah kerajaan islam.

3.    Politik

Dengan masuknya raja ke agama islam maka penduduk yang pada dasarnya memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap raja berbondong – bondong memeluk agama islam. Setlah itu, kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti dengan penyebaran agama islam.

4.    Pendidikan

Para da’i, ulama, guru – guru agama, ataupun para kyai memegang peranan penting dalam penyebaran agama islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.

5.    Kesenian

Dilakukan dengan penggelaran seni gamelan dan wayang. Cara ini ditemui di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dll. Dimana seni – seni merupakan kegemaran masyarakat Jawa, sehingga mengundang masyarakat untuk menontonnya. Di pertunjukan seperti inilah dakwah islam di seampaikan.

6.    Tasawuf

Seorang sufi dikenal hidup dengan sederhana, selalu menolong masyarakat, menyembuhkan penyakit, dan mereka juga aktif dalam penyebaran agama islam. Sehingga, agama islam mudah diterima di masyarakat.



C.   Pendidikan Islam Pada Masa Masuknya Islam ke Indonesia

Penyebaran pengaruh Islam yang berasal dari Jazirah Arab ke Asia dan benua lainnya, menimbulkan munculnya pusat-pusat agama Islam dikawasan tersebut yang berguna sebagai pusat pemerintahan dan peradaban, juga berperan dalam penyebaran pengaruh Islam ke wilayah sekitarnya.2

1. Peran Pedagang dalam penyebaran pendidikan Islam

Para pedagang yang menjalin hubungan dengan pedagang Indonesia tidak hanya pedagang Cina tetapi juga pedagang India, Persia, Arab, Mesir dan Turki. Adanya interaksi sosial antara pedagang muslim dengan masyarakat setempat inilah yang akhirnya memberi pengaruh masuknya nilai-nilai dan ajaran Islam sehingga semakin banyak yang memeluk agama Islam.
Adapun sistematis yang dilakukan para pedagang dalam penyampaian dakwahnya adalah sebagai berikut:

a.    Mula-mula para pedagang berdatangan ke pusat perdagangan

b.    Kemudian mulai ada yang bertempat tinggal, baik sementara maupun menetap.

c.    Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan muslim dari negeri asing yang disebut pekojan.

d.   Status sosial yang tinggi, memudahkan mereka mengawini pribumi baik rakyat biasa maupun anak bangsawan.

e.    Sebelum pernikahan, calon istrinya di-Islam-kan dahulu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

f.     Lambat laun berkembang menjadi perkampungan, masyarakat dan kerajaan Islam.

Sehingga dengan demikian, para pedagang mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam melalui pendidikan sosial kemasyarakatan, seperti cara berdagang islam, cara bermasyarakat, upacara pernikahan sampai pada cara bersosialisasi sehari-hari yang telah mereka praktekkan dalam kehidupan kesehariannya.

2.  Peran Ulama’ dalam penyebaran pendidikan Islam di Indonesia

Agama Islam yang diperkenalkan kepada bangsa Indonesia mempunyai bentuk yang menunjukkan persamaan dengan alam pikiran yang telah dimiliki oleh orang-orang yang dulunya menganut agama Hindu Syiwa dan Budha Mahayana. Hal ini menyebabkan ajaran Islam yang diperkenalkan semakin mudah dimengerti dan dipahami.
Salah satu cara agar pemahaman tentang Islam mudah diterima oleh masyarakat adalah melalui gambaran-gambaran. Tidak langsung pada pembahasan yang mungkin sulit diterima, antara lain melalui gending-gending jawa, gending gending dolanan, wayang kulit dan hikayat. Para Ulama’ yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan Wali Songo telah mempunyai andil besar dalam hal ini, diantaranya:

                       a.          Sunan Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Turki selain menguasai ilmu-ilmu agama juga ahli dalam bidang tata negara sehingga ia mampu mensinergikan antara adat istiadat penduduk asli dengan syari’at Islam.

                       b.          Sunan Ampel yang berasal dari Aceh juga memprakarsai berdirinya pesantren Ampel Denta dan Kerajaan Islam Demak.

                       c.          Sunan Drajat yang merupakan putra Sunan Ampel sebagai pencipta gending pangkur.

                      d.          Sunan Bonang yang juga putra Sunan Ampel sebagai pencipta gending durma.

                       e.          Sunan Giri sebagai pendiri pesantren di Giri yang juga menciptakan gending asmaradana dan gending pucung selain itu beliau juga menciptakan permainan anak-anak yang berjiwa Islam, seperti ilir-ilir, jamuran dan cublak-cublak suweng.

                        f.          Sunan Kalijaga yang lahir dituban Jawa Timur menyebarkan Islam melalui cerita wayang.

                       g.          Sunan Kudus, beliau berasal dari Palestina adalah seorang yang pandai mengarang dan pencipta gending mas kumambang dan gending mijil.

                       h.          Sunan Muria adalah putra sunan Kalijaga adalah pencipta gending sinom dan kinanti.

                         i.          Sunan Gunung Jati yang berasal dari Palestina dan sebagai panglima perang kerajaan Demak, beliau aktif berdakwah melalui sosial politik.

3. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam

Selain itu, pondok pesantren yang dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia merupakan lembaga pendidikan Islam yang penting dalam penyebaran agama Islam pada waktu itu. Pesantren inilah yang akhirnya menampung anak-anak bangsa yang tidak diperbolehkan oleh penjajah untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan pemerintah.
Para santri yang telah keluar dari pesantren ini, kemudian akan menjadi tokoh agama, menjadi kyai dan mendirikan pesantren lagi. Sehingga dengan adanya pesantren ini, penyebaran pendidikan Islam tidak akan terputus. Demikian seterusnya sehingga semakin lama Islam semakin berkembang.

4. Peran kerajaan Islam dalam penyebaran pendidikan Islam di Indonesia

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktekkan pola hidup yang sederhana.
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :

a.    Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i

b.    Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh

c.    Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama

d.    Biaya pendidikan bersumber dari negara.

Selain itu juga banyak kerajaan – kerajaan Islam lainnya yang sangat memperhatikan pendidikan di wilayahnya, diantaranya adalah kerajaan Perlak yang memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat.3
Kerajaan Aceh darussalam yang juga melaksanakan pendidikan Islam yang diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain:
– Sebagai tempat belajar Al-Qur’an
– Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam. Dan tidak hanya itu, hampir disemua daerah mempunyai lembaga pendidikan sendiri baik milik negara/ kerajaan ataupun pondok pesantren yang dimiliki perseorangan.

D.  Pendidikan Islam Masa Kerajaan Islam Di Indonesia
1. Kerajaaan Samudra Pasai

Menurut apa yang di temukan Ibnu Batutah, sistem pendidikan yang berlaku di kerajaan samudra pasai, yaitu :

a.       Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah Fiqh Mazhab Syafi’i ;

b.      Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah ;

c.       Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama ;

d.      Biaya pendidikan agama bersumber pada negara.[5]
2. Kerajaan Perlak

Terdapat suatu lembaga pendidikan lainnya yaitu ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitb al um karangan Imam Syafi’i dan sebagainya.
3. Kerajaan Aceh Darusalam (1511-1874)

Pada 12 zulkaijah 916 h (1511) kerajaan Aceh menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta ilmu. Hal ini merupakan tempaan sejak berabad-abad lalu, yang berlandaskan pendidikan islam dan ilmu pengetahuan. Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam maupun di luar negeri. Bahkan ibu kota kerajaan Aceh darusalam terus berkembang menjadi internasional dan sebagi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan :

a.       Balai Seutia Hukama, lembaga ilmu pengetahuan, berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

b.      Balai Seutia Ulama’,  jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah – masalah pendidikan dan pengajaran.

c.       Balai Jam’ah Himpunan Ulama’, kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikan

d.      Meunasah (Madrasah), sebagai sekolah dasar dengan materi pengajaran : menulis dan membaca huruf arab, ilmu agama, bahasa jawi/melayu, akhlak dan sejarah islam.

e.       Rangkang adalah tempat tinggal murid di sekitar masjid, sistem yang dipakai sama dengan sistem pondok pesantren.

f.       Dayah merupakan sebuah lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan pengkaderan ulama, namun pendidikan dayah terkesan sangat monoton dalam penyusunan kurikulum berorientasi pada sistem lam, artinya kitab yang diajarkan adalah kitab – kitab abad pertengahan.

g.      Dayah Teuku Cik adalah perguruan tinggi atau akademi, diajarkan Fiqh, Tafsir, Hadist, Tauhid, Akhlak/Tasawwuf, Ilmu Bumi, Ilmu Bahasa dan Sastra Arab, Sejarah dan Tata Negara, Mantik, Ilmu Falak dan Filsafat.[6]
4. Kerajaan Demak

Sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran ada kesamaan dengan kerajaan di aceh, yaitu dengan mendirikan masjid di tempat – tempat yang menjadi sentral di suatu daerah. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu gelar sunan dengan  ditambah nama daerahnya seperti : Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kiai Ageng Tarub, Kiai Ageng Sela dan lain- lain.
5. Kerajaan Mataram

Pendidikan sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah – olah tertanam kesadaran akan pendidikan di masyarakat kala itu. Anak – anak belajar ditempat pengajian atas kehendak orang tuanya sendiri. Selain belajar al – qur’an, murid – murid juga diajarkan kitab.
6. Kerajaan Banjar Masin

Sistem pengajian kitab di Banjar Masin tidak berbeda dengan sistem pengajian kitab di pondok pesantren jawa ataupun sumatra, yaitu dengan mempergunakan sisitem halaqah, menterjemahkan kitab – kitab yang dipakai ke dalam bahasa daerah (Banjar), sedangkan santri menyimaknya.





E.  Lembaga, Metode, dan Materi Pendidikan Agama Islam

1.         Masjid dan langgar, sebagai tempat pendidikan untuk orang dewasa maupun anak-anak. Pengajian orang dewasa adalah penyampaian - penyampaian ajaran islam yang berkenaan dengan Akidah, Ibadah, dan Akhlak. Sedangkan, pengajian anak-anak adalah berpusat pada pengajian al-qur’an.
Sistem pengajaran yang dilakukan adalah sistem halaqah, yaitu guru membaca dan menerangkan pelajaran sedangkan siswa mempelajari atau mendengarkan saja. Hampir mirip dengan sistem klasikal yang berlaku sekarang.adapun, metode yang digunakan adalah metode bandongan (guru membaca dan menjelaskan isi kitab, dikerumuni murid yang memegang kitab yang sama) dan metode sorongan ( murid menyodorkan kitab, dan guru memberikan tuntutan cara membaca,, menghafal, dan bahkan menterjemah serta menafsirkan).

2.         Meunasah, rangkang, dan dayah, meunasah adalah madrasah secara etimologi, yang merupakan lembaga pendidikan awal untuk anak –a anak yang dapat disamakan dengan tingkat sekolah dasar. Rangkang adalah tempat tinggal murid di sekitar masjid, sistem yang dipakai sama dengan sistem pondok pesantren. Dan dayah merupakan sebuah lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan pengkaderan ulama, namun pendidikan dayah terkesan sangat monoton dalam penyusunan kurikulum berorientasi pada sistem lama, artinya kitab yang diajarkan adalah kitab – kitab abad pertengahan.

3.         Surau, adalah suatu tempat bangunan kecil untuk tempat solat, tempat belajar mengaji anak, tempat wirid (pengajian agama) bagi orang dewasa.

4.         Pesantren, adalah sekolah islam berasrama yang ada di indonesia. Bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-qur’an dan sunnah Rasul. Metode yang digunakan adalah metode wetonan sama seperti metode bandongan, metode sorongan, dan metode madrasah.
Adapun struktur program krikulum madrasah, dan pendidikan agama terdiri dari mata pelajaran :

a.       Qur’an Hadist

b.      Akidah Akhlak

c.       Fikih

d.      Sejarah Dan Peradaban Islam

e.       Bahasa Arab, semua program ini di golongkan kepada program inti.
Beberapa setrategi yang perlu dicanangkan untuk prediksi pendidikan islam masa sekarang adalah :

1.      Strategi Sosial Politik, menekankan diperlukannya merinci butir – butir pokok formalisasi ajaran islam di lembaga – lembaga negara melalui upaya legal formalitasyang terus menerus oleh gerakan islam

2.      Strategi Kultural, dirancang untuk kematangan keperibadian kaum muslimin dengan memperluas cakrawala pemikiran, cakupan mendidik dengan moralitas islam yang benar dan menjalankan kehidupan islami baik individu maupun masyarakat

3.      Strategi Sosio Cultural, diperlukan upaya untuk mengembangkan kerangka kemasyarakatan yang menggunakan nilai-nilai dan prinsip islam.







2  Ahmad Sya’labi, Sejarah Kebudayaan I (Jakarta : Pustaka Al – Husna, 1979), h. 17.

3  Taufiq Abdullah, Sejarah Ummat Islam Indonesia ( Jakarta : Majelis Ulama’ Indonesia, 1991), h. 5.

[5]  Prof. Dr. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2012), h. 222.


[6]  Ibid., h. 226.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar